7 Tips menghadapi minggu pertama homeschooling

Minggu pertama sekolah sepertinya juga ditandai menjadi minggu pertama homeschooling bagi keluarga yang baru pertama kali HS, lalu kemudian bertanya2, mulai darimana ya? Mungkin #tipsHS berikut ini bisa bermanfaat, khususnya untuk ortu yang anak2nya berusia 9thn kebawah.

#1 TIPS YANG PERLU DILAKUKAN DI RUMAH PERTAMA KALI

1A. Mulailah dari membacakan buku, lalu ada follow up activity yang masih berkaitan dengan buku. Bentuknya bisa anak bercerita kembali, diskusi bersama, menggambar, art & craft, sampai percobaan sains.

Baca buku bisa juga diganti dengan nonton bareng, main bareng, main game bareng, dan lain2. Pokoknya bareng2 lha.

1B. Mungkin perlu diingat, tujuan utama kegiatan baiknya untuk mempererat hubungan dengan anak, membangun komunikasi, dan kebersamaan keluarga.

1C. Yang jelas, orangtua bukan guru, tapi fasilitator, kegiatannya bukan mengajari tapi belajar bersama.

Sambil memulai, mungkin mulai deh brainstorming tentang pendidikan dan visi misi keluarga kali ya? Sekalian emak bapaknya deschooling (membongkar paradigma tentang pendidikan)..

Gimana urusan kurikulum, jadwal belajar, dan lain2… ?? Idealnya sih setelah 3 diatas sudah jalan, nanti jadwal akan terbentuk sendiri, kebutuhan kurikulum (atau tidak butuh?) akan muncul sendiri…

#2 TIPS MENGHADAPI TANTANGAN MINGGU PERTAMA

Biasanya nih ya… semangat di minggu pertama homeschooling, langsung diterpa tantangan. Idealisme kita tentang homeschooling harus berhadapan dengan realita. contohnya, curhatan macam ini:

“Anakku maunya dirumah hanya nonton TV dan main game saja seharian”
“Anakku ngilang terus, maunya gaul dan main saja seharian diluar rumah”
“kalau diajak belajar mukanya cemberut”
“kami ga pernah “ngapa-ngapain” dirumah. Salah ga ya?”
“kenapa ya anakku tidak semangat belajar sama ibunya”
“anakku tidak bisa diatur dan ga penurut seperti anak-anak homeschool yang biasa aku baca diblog”
“sepertinya anakku tidak punya inisiatif dan motivasi seperti anak homeschool yang lain”
“kenapa kegiatan HS kami tidak berjalan harmonis dan penuh cinta seperti keluarga lain?”

Jeng. Jeng. Jeng. Hayo lhooo

#tipsHS ini siapa tauu bisa membantu:

2A. Fahami dan terima bahwa Semua praktisi HSer newbie pasti mengalami ini. Kita adalah produk sekolah. Sekolah adalah satu-satunya pengalaman hidup yang memberi contoh seperti apa harusnya proses belajar yang ideal itu. Mungkin kita kesulitan membedakan “Learning” VS “studying”. Mungkin kita udah ga inget lagi cara belajar diluar cara “sekolahan”. So, “jet lag” ini pasti terjadi. Beri waktu untuk adaptasi. Tarik nafas panjang.

2B. Lihat lagi #tipsHS bagian pertama karena penting banget. Bangun Kebersamaan keluarga. Tingkatkan “connection” ortu-anak. Ortu adalah fasilitator, bukan guru. Kita belajar bersama, bukan mengajari. Caranya… coba cek #1C

2C. Embrace the natural activity. Go with the Flow. Ikutin aja dulu. Anak senangnya nonton TV dan main game? ikutan dooong. Anak senangnya ngelayap mulu keluar? temeniin… Kalau berani, coba biarkan anak yang memimpin kegiatan…intinya….main bareennng ^_^

Nilai plus…. bisa sekalian eksplorasi minat anak lho…

2D. Anak ga nurut ga bisa diatur? Lihat lagi #2B

2E. Keliatannya ga ngapa2in ? Coba buat jurnal atau diary kegiatan dan catatan kegiatan “main2” hari ini. Coba maknai atau perhatikan perkembangan apa yang didapat hari ini. Ga dapet? Gapapa. Simpan dulu catatannya. Suatu hari, balik lagi ke catatan lama. Biasanya keliatan perkembangannya lho. Diary sangat bermanfaat banget.

#3 TIPS MENYUSUN RENCANA BELAJAR (LEARNING VS STUDYING)

ok. jadi, belajar itu terbagi dua, ada yang namanya “Learning”, ada yang namanya “Studying”. Learning itu biasanya dilanjutkan dengan kalimat “Learning opportunities”, anak-anak belajar dimana saja kapan saja. Apapun bisa jadi media belajar anak-anak. Lalu, Studying biasanya berhubungan dengan “formal instruction”, alias belajar dengan adanya susunan kurikulum tertentu atau dengan instruksi. Nah, sebenarnya, bedanya anak HS dan anak sekolah itu ya di “Studying”nya. Pada dasarnya, pasti tiap anak itu “Learning”, yekan? sampai sekarang orang dewasa pun terus Learning.

Nah, trus, gimana dong Studying-nya anak homeschooling itu? berapa jam sih sebenarnya dirumah? mata pelajaran apa aja sih yang dipelajari ? Kurikulum mana yang dipakai ? Susun jadwalnya gimana?

#TipsHS kali ini mungkin bisa dipakai.

3A. Jangan jadikan lama belajar di sekolah sebagai patokan.

Fahami bahwa jam belajar di sekolah itu disusun dalam rangka “manajemen kelas”. Dengan jumlah siswa, guru, dan kelas yang sedemikian rupa, tentunya perlu disusun agar tidak tumpang tindih dan berjalan dengan lancar. Satu mata pelajaran biasanya mungkin sekitar 120-150 menit, dengan jumlah siswa sekitar 20 – 40 anak. Maka, siswa belajar sehari sekitar 6-8 jam yang terdiri dari beberapa mata pelajaran. Dirumah, dengan jumlah “siswa” yang sangat sedikit, rata-rata paling banyak mungkin sekitarย  2-6 anak, maka jumlah jam belajar bisa diturunkan. Ga perlu sampai 6-8 jam, karena perhatian ortu pastinya bisa lebih banyak dalam jumlah waktu yang lebih sedikit. Kemungkinan, bisa jadi, cukuplah 1-2 jam sehari.

Rumus yang biasanya digunakan adalah menggunakan perbandingan 1:4 , 1 jam di sekolah = 15 menit di rumah. Dasar pemikirannya, di kelas, dalam satu mata pelajaran, 1 guru harus membagi perhatiannya ke puluhan siswa tersebut, diperkirakan mungkin satu anak dapatlah perhatian sekitar 15 menit.

Rumus ini tentu saja sangat fleksibel. hanya sebagai contoh saja. Silakan jadwalkan sebaiknya berapa lama belajar di rumah masing-masing berdasarkan kebutuhan dan gaya belajar keluarga. Mau 2 jam sehari bisa. Mau 6 jam sehari juga gapapa. Tau kebutuhan dan gaya belajar bagaimana? Kembali ke #TipsHS bagian pertama untuk tahu ya.

3B. Menyusun jadwal bagaimana? enaknya anak HS, tentunya jadwal bisa sangat fleksibel. Kita bisa saja menjadwalkan 1 hari terdiri dari beberapa mata pelajaran. Tapi kalau satu pelajaran ternyata terlalu asyik untuk di stop, ngapain juga toh dihentikan dan diganti pelajaran lain? kan ga ada jadwal guru lain yang akan terganggu. Dilain pihak, jika anaknya mudah bosen, mungkin saja lebih asyik jika sehari terdiri dari banyak mata pelajaran agar anak terus semangat.

3C. Untuk menentukan mata pelajaran mana yang dipelajari, sebenarnya kembali ke Visi dan Misi Pendidikan Keluarga. Belum punya? Nah, mungkin sudah mulai deh ditulis. Apa sih tujuan pendidikan keluarga Anda ? Ga harus jadi plek jadilah.. Belum tau apa yang mau ditulis? balik ke #TipsHS bagian pertama lagi. Kenali keluarga Anda.

Kalau kita lihat, kurikulum nasional 2009 mencanangkan 11 mata pelajaran. kurikulum nasional 2013 ada 7 mata pelajaran. Di luar negeri, lebih dikit lagi. Finlandia, misalnya, hanya mewajibkan 2 mata pelajaran dengan 4 mata pelajaran pilihan siswa itu sendiri. Mau fokus ke ujian sekolah? ada beberapa mata pelajaran. Kembali ke Al-Quran dan Hadits ? Mungkin bisa saja jadi lebih fokus.

Jadi mau yang mana? Salah satu kelebihan HS adalah fleksibilitas. Kita bisa tentukan sendiri sesuai keluarga. Kekurangannya….karena fleksibilitas itu pilihan terbentang luas. Kalau Kita belum punya Visi keluarga, emang jadi overwhelmed! Jadi bingung mau ambil yang mana.

3D. Ga ada jadwal “studying” ? ya gapapa juga. Kalau kita yakin Anak lebih cocok belajar dengan gaya informal ala “Learning”, silakan aja lanjut…. Gimana bisa yakin? balik lagi ke #TipsHS bagian pertama ๐Ÿ˜€

#4 TIPS MENGHADAPI ANAK 24 JAM SEHARI 7 HARI SEMINGGU

24/7 bareng anak-anak, yang boneng? 40 hari anak libur sekolah aja udah bikin suntris. Rumah berantakan. Anak2 berantem. Emak banyak kerjaan lain. Dah mana sumbu pendek pulak emosi emaknya. Gimana dong biar sabar.

Beberapa tahun sempet juga nanya2 kiri kanan, trus dikumpul2in. #TipsHS ini mungkin bisa membantu.

4A. Berdamai dengan keadaan. Ok. Selama ini idealisme kita selalu bertabrakan dengan realitas. Tentang anak. Tentang pasangan. Tentang rumah. Tentang apapun. Langkah awal, ya kudu berdamai dengan keadaan. Ga usah bandingkan dengan keluarga lain atau rumah lain. We all have our own battle. ^_^

4B. Libatkan anak dalam (hampir) semua aspek. Jangan ditelen, dikerjain, dipikirin sendiri. Ajak2 dunk. Mulai dari membereskan rumah sampai merencanakan jadwal belajar. Diskusi bersama. Kesulitan memulai diskusi? Berarti kembali ke #tipsHS bagian pertama. Beresin dulu connection dan kebersamaan keluarga.

4C. Selalu berpikir positif. Don’t expect your kids to age beyond their age. Mereka belum tahu tata krama, belum bisa atur emosi, belum mengenal keterbatasan fisiknya. Mungkin dengan demikian, kita bisa lebih berempati alih-alih berkesal hati. Fokus dan apresiasi pada kebaikan Anak yang ditunjukkan.

4D. Don’t take it personally. Jangan masukkin ke hati. Anak tantrum? Itu mereka lagi gagal mengontrol emosinya sendiri, jadi kita perlu bantu menenangkan, bukan ikut2an tantrum

4E. Asah sense of humor Anda. Coba lihat peristiwa lebih tenang tanpa emosi dengan melihatnya sebagai hal yang lucu, kreatif, dan seru. Air yang tumpah, Bedak yang bertaburan, dlsb. Hihihi. Lalu, praktekkan tips #2 diatas waktu bersih2.

#5 TIPS MENGHADAPI PERTANYAAN DAN KOMENTAR ORANG LAIN

Ok, anakmu ga sekolah. Resikonya… ya dapet komentar dan pertanyaan tentang homeschool. Males dengernya? Bosen ? Ya udah sih. Mau gimana lagi ๐Ÿ™‚

#TipsHS kali ini mungkin bisa membantu. Jangan kayak saya yang lupa muluk sama tips sendiri soal ini yak :p

5A. Belajarlah untuk membedakan manaย  komentar yang “mengandung” nada positif (orang yang pro HS), mana yang negatif (orang yang kontra HS).

5B. Orang yang pro HS, biasanya komentarnya mengandung kalimat keinginan untuk HS tapi ga dilakukan karena alasan A B C D. Berarti orang itu sedang sedikit curcol, ya gapapa, dengerin aja. Kalau ada pertanyaan, ga perlu dijawab dengan jawaban menggebu2 dan panjang lebar. Dibawa santai aja. Jangan lupa senyum ๐Ÿ™‚

5C. Orang yang kontra HS, biasanya komentarnya mengandung kalimat kelemahan-kelemahan HS dan kenapa itu ga baik untuk dijalankan. Berarti orang itu sedang menguatirkan kita. Ya gapapa, namanya juga perhatian ๐Ÿ™‚ ga perlu membela diri dengan jawaban menggebu2 dan panjang lebar. Dibawa santai aja. Jangan lupa senyum ๐Ÿ™‚

5D. Kalau ada yang komentar dan beneran bertanya karena sungguh2 ingin belajar, bukan cuma kepo dan curhat, ya arahkan dan membantu semampunya. Kalau lalu ga jadi homeschool, ya gapapa. Ikhlasin.

Perlu diingat, memutuskan homeschool itu memang butuh faith. Keyakinan. Dan keyakinan itu memerlukan orang tersebut untuk berjalan mencari jawaban atas kegalauannya sendiri.

5E. Pegel, capek ditanya mulu? Ya balik lagi ke #tipsHS bagian ke #4. Berdamailah dengan keadaan :p

#6 TIPS MENGHADAPI KAKEK NENEK TERCINTA

“APAAAA…CUCUKU GA SEKOLAAAHH ???” jeng jeng jeng….*masukkin medley musik horror*

Siapa lagi yang paling peduli kesejahteraan dan masa depan anak selain orangtuanya? Nah iya, para Eyang.

kebayang ga seh gimana rasanya tau udah susah payah jungkir balik nyekolahin anak, eh ndilalah cucunya malah kagak sekolah. Pegimane ini, pegimaneee… hayo lhooo

#TipsHS kali ini mungkin bisa berguna.

6A. Kecuali suasananya enak dan mendukung untuk diskusi, sebaiknya jangan coba2 untuk beri informasi tentang HS secara terang2an. Mau disampaikan sehalus mungkin, tetep aja akan terasa menggurui, sok tahu, dan mengecilkan orangtua. Bagaimanapun, kita akan terus keliatan lebih sedikit pengalamannya di hadapan beliau.

6B. Jadilah pendengar yang baik, dan berempatilah pada keresahan beliau. Dengarkan nasehatnya. Rasakan kegalauannya. Apalagi kalau keresahan beliau pernah juga kita rasakan.

6C. Coba cari pihak ke3 yang kira2 bisa menyampaikan informasi tentang HS, syukur2 isi hati kita ke beliau…

Caranya?

6C-1. Coba screening anggota keluarga kita mana yang paling terbuka pemikirannya, yang kita bisa share tentang HS. Biasanya dia akan mencoba menjembatani tentang ini. Bisa juga ke sahabat kita yang kira2 cukup dekat dengan ortu kita.

6C-2. Kalau para eyang ada di socMed dan suka kepo baca blog kita, manfaatkan sebaik2nya dengan menulis status tentang HS, proses belajar anak, dan lain sebagainya yang berhubungan. Kalau ga OL di socmed, berarti informasi mengenai perkembangan anak perlu lebih kreatif gimana bisa sampai ke para eyang, hehe.

6C-3. Coba selipkan buku, artikel, video, berita tentang HS dimana aja ada kesempatan. Hihihi

6C-4. Ajaklah untuk berpartisipasi dalam proses belajar anak. Ortu bisa apa? Masak? Dagang? Ngaji?

6C-5. Sekali2 ajak para eyang untuk ketemu keluarga HS lain dan lihat kegiatan anak. Biarkan mereka ngobrol dengan keluarga lain dan para eyang lainnya. Belum menjalin pertemanan keluarga dengan keluarga HS dengan gabung bersama komunitas? Penting lho. Nanti ya di #tipsHS berikutnya!

Minimal banget, coba ajak ke ajang tahunan macam festival pendidikan, seminar homeschooling dan sejenisnya. Suasana yang gembira dalam sharing dan berjejaring biasanya lebih membuka mata. ^_^

#7 TIPS MENGHADAPI PASANGAN TERCINTA

Kalau diperhatikan nih, suami istri homeschooling itu kebanyakan pasangan yang romantis. Kompak aja getho. Bisa saling diskusi. Bikin perencanaan hidup. Berbagi tanggung jawab pendidikan anak. Beuh. Enak tenan. Ngiri dah.

Trus, melirik pasangan sendiri deh… Trus ngerasa, aduh. bisa ga ya HS. Pasangan Frontal melarang HS sih engga. Tapi bantu2 juga ga. Kalau ngritik sih….cepet. Boro2 diajak diskusi visi keluarga. Jadi gimana dong?

Mungkin bisa pake #TipsHS ini.

7A. Fokus ke kebaikan pasangan. Sekeciill mungkiinn. Apa biasanya kontribusi beliau dirumah ? Apresiasi tindakannya dengan rasa syukur. Romantisme pernikahan emang beda ya. Ga ketemu kebaikannya? Balik ke #TipsHS bagian pertama. Tingkatkan connectionmu. Bangun kebersamaan keluarga…caranya…

7B. Cari lagi kesamaan kesukaan kalian, dan bangun kebiasaan dengan melakukan bersama. Misalnya, nonton bareng? Lalu diskusi deh tentang itu.

7C. Kenali apa hobi pasanganmu. Apa kesukaannya? Coba ikut masuk dan dukung ke dunianya. Ajak anak2 untuk ikutan. Bagaimanapun, keluarga itu kan saling support, kan? Minta pasangan untuk melibatkanmu dan anak2 untuk hobinya. Jadikan bagian dari proses belajar anak dengan pasangan sebagai mentornya. Tapi… Jangan maksa yak. Hehe.

7D. #tipsHS bagian ke-6 bisa juga diterapkan untuk pasangan. Terutama nomer 6A,6B,6C. Baca lagi ya. Kali ini dengan perspektif pasangan.

7E. Bangun persahabatan keluarga dengan keluarga HS lainnya. Pengaruh paling besar mungkin bukan kita, tapi ketika para pasangan saling komunikasi. Coba bikin kegiatan “playdate” keluarga jika memungkinkan. Atau, biarkan pertemanan berjalan lebih alami melalui komunitas HS yang paling cocok untuk keluarga Anda.

Belum membangun pertemanan ? Mungkin sudah waktunya mulai berjejaring. Beneran deh, ga bakal nyesel.

7F. Ini #TipsHS dari keluarga Pak Dodik dan Mba Septi, kata mereka, setiap kita berkegiatan bersama anak, buatlah kegiatan itu seseru mungkin, hingga Anak2 ga berhenti2 cerita, sampai bikin pasangan jadi tertarik untuk bergabung. ๐Ÿ™‚

7G. Lihat lagi #tipsHS bagian 4A. Terima keadaan. Jangan bandingkan dengan keluarga lain. We all have our own battle.

 

 

One thought on “7 Tips menghadapi minggu pertama homeschooling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s